Sejarah Situs Ratu Boko yang harus Anda ketahui

Cerita, Relief dan Bangunan Candi Situs Ratu Boko Peninggalan Nusantara, Yogyakarta.

Menghubungkanmu dengan Yogyakartag

Candi Situs Ratu Boko merupakan salah satu warisan budaya yang sangat menarik untuk menjadi referensi wisata Anda. Tapi taukah Anda nilai sejarah yang bisa Anda dapati dari Situs budaya tersebut?  yojolink.com akan mengulasnya untuk Anda, semua informasi didapatkan langsung dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB).

Di sekitar Situs Ratu Boko telah ditemukan beberapa prasasti, antara lain:  lima fragamen prasasti berhuruf Pranagari dan berbahasa Sanskerta, tiga prasasti berhuruf Jawa Kuna, dalam bentuk syair Sanskerta, satu prasasti berbahasa dwilingual (Sanskerta-Jawa Kuna), serta satu tulisan singkat (inskripsi) pada lempengan emas.

Berdasarkan prasasti yang ada dapat disimpulkan bahwa Kawasan Situs Ratu Boko merupakan kawasan peninggalan sejarah yang bercorak Hinduisme dan Buddhisme yang dibangun sekitar abad VIII – IX M. Kompleks Situs Ratu Boko pada mulanya merupakan sebuah kompleks wihara, yaitu asrama untuk tempat tinggal para biksu dalam agama Buddha. Dalam prasasti tertua yang ditemukan di Situs Ratu Boko, tercantum angka tahun 714 Saka (792 M.), isinya tentang peringatan pendirian abhayagiriwihara oleh Rakai Panangkaran. Selanjutnya pada tahun 856 M., fungsi kompleks Situs Ratu Boko berubah menjadi kediaman seorang penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni (Sri Kumbhaja) yang menganut agama Hindu. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila unsur agama Hindu dan Buddha tampak pada kompleks bangunan ini. Keberagaman kepercayaan dan multikulturalisme sumber daya budaya tergambarkan dari warisan budaya yang ada. Hal itu menunjukkan prinsip toleransi dan harmoni yang mengakar. Unsur Hindu dapat ditunjukkan melalui yoni, tiga miniatur candi, arca Ganesa, dan Durga, serta lempengan emas dan perak bertuliskan mantera agama Hindu, sedangkan unsur Buddha terlihat dari adanya temuan arca Buddha, reruntuhan stupa, dan stupika.

Menurut lokasinya, bangunan-bangunan di Situs Ratu Boko dapat dikelompokkan menjadi lima, berikut ini.
1. Kelompok Gapura Utama, terletak di sebelah barat yang terdiri atas gugusan Gapura Utama I dan II, talud, pagar, candi pembakaran, dan sisa-sisa reruntuhan.
2. Kelompok Paseban, terdiri atas dua buah batur paseban, talud, dan pagar paseban termasuk gapura dan beberapa umpak batu.
3. Kelompok Keputren, berada di halaman yang lebih rendah, terdiri atas dua buah batur, kolam segi empat, pagar, dan gapura.
4. Kelompok Pendapa, terdiri atas batur pendapa dan pringgitan yang dikelilingi pagar batu dengan tiga gapura sebagai pintu masuk, candi miniatur yang dikelilingi teras-teras segi empat, beberapa kolam penampung air yang dikelilingi pagar lengkap dengan gapuranya dan struktur talud yang diberi pagar di bagian atasnya.
5. Kelompok Gua, terdiri atas Gua Lanang, Gua Wadon, bak tandon air, dan tangga batu cadas alam.

Bangunan-bangunan pada kompleks tersebut terletak di teras-teras yang dibuat pada punggung hingga puncak bukit, dengan halaman paling depan terletak di sebelah barat, terdiri atas tiga teras. Di halaman teras pertama, sudah tidak ditemukan bekas-bekas bangunan kecuali pagar teras yang berfungsi sebagai penguat dan batas teras. Halaman teras kedua ditandai oleh bangunan gapura yang menghadap ke barat. Masing-masing teras dipisahkan oleh pagar dari batu andesit setinggi 3,50 m dan tebing teras diperkuat dengan susunan batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit, namun batas utara merupakan dinding bukit yang dipahat langsung. Teras pertama dengan teras kedua dihubungkan oleh gapura I, sedangkan gapura II menghubungkan teras kedua dan ketiga. Di bagian luar pagar yang membatasi teras kedua dan ketiga terdapat parit selebar 1,50 m. Dinding dan dasar parit diperkuat dengan susunan batu andesit.

Penelitian awal yang mengacu pada upaya pemugaran situs Ratu Boko dimulai tahun 1938 oleh F.D.K. Bosch, N.J. Krom, dan W.F. Stutterheim. Kegiatan penelitian awal ini meliputi pendeskripsian, pengukuran, dan pemotretan terhadap sisa-sisa bangunan yang sudah tampak jelas di permukaan tanah. Penelitian awal tersebut berlangsung sampai dengan tahun 1973, kemudian penanganannya diambil alih oleh bangsa Indonesia. Untuk selanjutnya dalam rangkaian penelitian itu dilakukan pula ekskavasi penyelamatan terhadap beberapa struktur bangunan yang terpendam  tanah.

*Sumber : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta

Mau kesana tanpa nyasar? Klik Tombol di bawah.

button-151586_640

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *