Sejarah Candi Sambisari yang perlu Anda ketahui

Cerita, Relief dan Bangunan Candi Sambisari Peninggalan Nusantara, Yogyakarta.

Menghubungkanmu dengan Yogyakartag

Candi Sambisari merupakan salah satu warisan budaya yang sangat menarik untuk menjadi referensi wisata Anda. Tapi taukah Anda nilai sejarah yang bisa Anda dapati dari Situs budaya tersebut?  yojolink.com akan mengulasnya untuk Anda, semua informasi didapatkan langsung dari Badan Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB).

Sejarah pendirian Candi Sambisari be­lum dapat diketahui secara pasti karena tidak ada­nya bukti yang konkret. Untuk menentukan tahun pendiriannya harus ditinjau dari beberapa segi. Dari segi arsitektur, R. Soekmono menggolongkan Candi Sambisari  ke dalam abad ke-8 M. Berdasarkan batu isian yang digunakan berupa batu padas, pendirian Candi Sam­bisari diperkirakan semasa dengan Candi Pram­banan, Plaosan, dan Sojiwan, yaitu sekitar abad IX-X M. Berdasarkan kedua tafsiran tersebut, Soediman  berpendapat bahwa Candi Sambisari didirikan pada abad X M (± 812 – 838 M). Pendapat tersebut didukung adanya temuan lempengan emas bertulis (prasasti), karena berdasarkan tafsiran paleografis, Boechari berpendapat bahwa tulisan itu ber­asal dari sekitar abad ke-9 M. Prasasti tersebut berhuruf Jawa Kuna, berbunyi Om siwa sthana (dibaca kembali oleh Rita MS), yang artinya  Hormat, pembuatan tempat (rumah) bagi Dewa Siwa.

Di dalam bilik candi induk terdapat Ling­ga dan Yoni yang merupakan aspek Dewa Siwa. Lingga adalah salah satu perwujudan dari Siwa, se­dang Yoni adalah perwujudan dari sakti (istri) Siwa. Di samping itu ada beberapa arca dari pan­teon agama Hindu, yaitu Durga Mahisasuramardhi­ni (utara), Ganesa (timur), Agastya (selatan), ser­ta Mahakala dan Nandiswara sebagai penjaga pintu. Berdasarkan arca-arca yang terdapat di Candi Sambisari, maka dapat diketahui bahwa latar belakang keagamaan Candi Sambisari bersifat Siwaistis.

Candi Sambisari merupakan kelompok percan­dian yang terdiri atas sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke arah barat de­ngan ukuran 13,65 m x 13,65 m dan tinggi keselu­ruhannya 7,5 m.

Hal yang menarik dari Candi Sambisari yaitu tidak terdapat kaki candi yang sebenarnya, sehing­ga alas (soubasement) sekaligus berfungsi sebagai kaki candi. Oleh karena itu, relung-relung pada tu­buh candi terletak hampir rata dengan lantai sela­sar. Tangga naik ke selasar diapit oleh sayap tang­ga yang pada ujung bawahnya dihias dengan maka­ra yang disangga oleh seorang cebol dengan kedua belah tangannya. Pada ambang atas gapura tidak ditemukan hiasan kepala kala.

Hal lain yang menarik yaitu di sekitar lantai selasar terdapat batu-batu pipih dengan tonjolan di atasnya (semacam umpak) sebanyak 12 buah, ber­bentuk bulat 8 buah dan berbentuk persegi 4 buah. Tubuh candi  sisinya berukuran 5 m x 5 m dan tingginya 2.5 m. Tangga naik ke selasar  dengan lebar 2,5 m terda­pat di sisi barat mengelilingi tubuh candi yang  sisi-sisinya ditutup de­ngan pagar langkan. Pada sisi luar dinding tubuh candi terdapat relung-relung yang  ditempati oleh Dewi Durga (utara), Ganesa (timur), dan Agastya (selatan) yang di atasnya terdapat hiasan kepala kala, sedangkan pada kanan kiri pin­tu masuk ke bilik candi terdapat dua relung untuk dewa-dewa penjaga pintu, yaitu Mahakala dan Nandiswara. Sayang sekali kedua arca penjaga itu telah hilang.

Di dalam bilik candi induk ada sebuah yoni yang cukup besar dengan cerat yoni mengarah ke utara di bawah ce­rat yoni terdapat hiasan seekor naga. Di atas yoni ter­dapat lingga dan di bawahnya terdapat perigi yang dinding-dindingnya dila­pisi dengan batu andesit berbentuk persegi. Di dalam perigi tidak ditemukan suatu benda kecuali ta­nah biasa.

Di depan candi induk terdapat tiga buah candi perwara; perwara tengah berukuran 4,9 m x 4,8 m, perwara utara dan selatan masing-masing berukuran 4,8 m x 4,8 m. Ketiga candi perwara itu tidak memiliki tubuh dan atap, yang ada ha­nya kaki candi dan di atasnya terdapat pagar 1angkan. Pada candi perwara tengah dan utara, di tengah-te­ngah ruangan yang dikelilingi pagar langkan terda­pat lapik (padestal) berbentuk bujur sangkar dan di atasnya terdapat padmasana, sedangkan candi perwara selatan tidak ditemukan.

Kompleks Candi Sambisari secara keseluruhan dikelilingi oleh pagar tembok dari batu putih yang berukuran 50 m x 48 m. Pada masing-masing sisi pa­gar terdapat pintu masuk, akan tetapi pintu sisi utara ditutup. Pada halaman pertama terdapat 8 buah lingga semu yang terletak di delapan arah ma­ta angin (4 buah di depan setiap pintu masuk dan 4 buah di setiap sudut). Di sisi luar pagar keliling ter­dapat teras selebar ± 8 meter dengan tangga naik di keempat sisinya, juga terdapat pagar yang diperkirakan pagar kedua, tetapi sekarang baru ditampakkan sebagian di sisi timur. Hal lain yang menarik dari Candi Sambisari yaitu titik pusat kompleks candi berada di sebelah selatan tangga masuk.

Kegiatan ekskavasi tahun 1975/1976 berhasil menampakkan candi induk dan 3 buah candi perwara. Kondisi candi-candi tersebut sudah dalam keadaan runtuh, kecuali pada bagian kaki, sebagian pagar langkan, dan sebagian tubuh masih berada pada posisi aslinya.

Dari hasil ekskavasi diketahui bahwa Candi Sambisari terletak 6,5 m di bawah permukaan tanah.  Hal ini menyebabkan kegiatan ekskavasi banyak mengalami hambatan, karena pada musim hujan halaman candi tergenang air. Komposisi tanah yang terdiri atas pasir dan abu gunung api, mengakibatkan tanah mudah sekali longsor pada musim kemarau.

Selama ekskavasi dan pemugaran Candi Sambisari, ditemukan beberapa benda yang merupakan temuan lepas berupa: keramik asing, gerabah, tulang, benda-benda dari perunggu, arca wanita dari batu andesit, arca Bodhisatwa dari perunggu, lem­pengan emas bertulisan, serta yoni.

*Sumber : Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta

Mau kesana tanpa nyasar? Klik Tombol di bawah.

button-151586_640

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *